Artikel

DEMENSIA

        TAHUKAH Anda, Demensia merupakan penyakit yang paling mematikan setelah Kanker dan Jantung? Sebuah penelitian menyebutkan demensia merupakan penyakit paling mematikan bagi wanita. Setiap tahunnya 32.000 orang wanita meninggal dunia akibat  demensia. Jumlah kematian ini tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan kanker payudara. Sementara itu, demensia diketahui sebagai pembunuh paling mematikan ketiga bagi kaum pria. Oleh sebab itu Demensia dianggap sebagai salah satu krisis kesehatan dan sosial global yang krusial di abad ke-21.

       Hingga saat ini jumlah orang dengan demensia (ODD) di dunia diperkirakan mencapai hampir 50 juta orang. Jumlah tersebut diperediksi akan semakin meningkat. Dari 50 juta orang yang terkena demensia, sebanyak 22,9 juta diantaranya berada di Asia Pasifik. Dan diestimasikan sebanyak 1,2 juta orang Indonesia kena demensia.

        Demensia yang biasa disebut penyakit pikun adalah kumpulan sindrom penurunan fungsi kognitif yang terjadi di otak. Selain menyebabkan mudah lupa, pada tahap tertentu, demensia juga bisa menyebabkan kematian. Penelitian yang dilakukan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebut demensia bisa memengaruhi sistem imun seseorang. Pasien demensia akan lebih mudah terserang infeksi, dengan pneumonia sebagai penyakit penyebab kematian terbesar. Mengapa pneumonia? dr March L. Gordon dari Zucker Hillside Hospital Queens, New York, menyebut demensia juga mengganggu koordinasi gerakan seseorang. Orang dengan demensia (ODD) sering mengalami kesulitan menelan, yang membuat makanan rentan salah masuk ke saluran pernapasan.

"Hal ini disebut sebagai aspirasi pneumonia (komplikasi aspirasi paru), di mana makanan tidak masuk kerongkongan dan malah masuk ke saluran napas. Ini merupakan penyebab kematian dari dua pertiga pasien demensia," ungkap dr Gordon dikutip dari Live Science.

        Sejatinya demensia adalah sebuah sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir, memahami sesuatu, melakukan pertimbangan, dan memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental. Sindrom ini umumnya menyerang orang-orang lansia di atas 65 tahun. Kendati begitu ada juga ODD yang berusia 50 tahun.

        Demensia merupakan sebuah istilah untuk menggambarkan sekelompok gejala yang mengganggu fungsi otak. Gangguan ini bukanlah sebuah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan sekelompok gejala yang disebabkan oleh kondisi lainnya. Singkatnya, kondisi ini kerap ditandai dengan sifat yang mudah lupa atau pikun karena memang mengganggu kemampuan otak untuk mengingat. Akan tetapi, mengalami penurunan daya ingat tidak lantas membuat Anda pasti terkena demensia. Sebab kondisi ini didasarkan oleh berbagai hal yang berbeda.

        Demensia juga bisa bersifat progresif, yang artinya dapat berkembang semakin memburuk dari waktu ke waktu. Beberapa kasus yang mengakibatkan demensia cenderung sulit untuk pulih. Ada berbagai penyakit yang bisa mengakibatkan demensia. Berikut beberapa jenis demensia sesuai penyakitnya, yakni:

1. Penyakit Alzheimer: Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia yang paling umum. Sekitar 60-80 persen dari semua kasus demensia adalah: penyakit Alzheimer. Alzheimer atau yang biasa disebut pikun adalah penyakit yang mengerikan dari pada penyakit mematikan lainnya. Orang dengan Alzheimer atau pikun akan hilang dari pergaulan. Dan pelan-pelan meninggal. Semasa hidupnya, orang dengan Alzheimer harus dirawat selama bertahun-tahun. Ini tentu akan menimbulkan masalah tersendiri bagi keluarga sebelum akhirnya dia meninggal dunia.

2. Demensia vascular: Jenis gangguan fungsi otak ini disebabkan oleh berkurangnya aliran darah pada otak. Kondisi tersebut bisa disebabkan oleh adanya penumpukan plak di dalam pembuluh darah arteri. Padahal normalnya, pembuluh darah tersebut seharusnya bertugas sebagai pemasok darah untuk otak. Stroke atau gangguan lainnya bisa menjadi penyebab masalah pada pembuluh darah ini.

3. Lewy body dementia: Lewy body dementia adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya endapan protein di dalam sel saraf pada otak. Akibatnya, fungsi otak untuk menghantarkan sinyal kimia ke seluruh tubuh pun terhambat. Itulah mengapa orang yang mengalami hal ini biasanya memiliki penurunan daya ingat, dan respon yang cenderung lambat. Lewy body dementia merupakan salah satu jenis demensia progresif yang cukup umum.

4. Demensia frontotemporal: Demensia frontotemporal adalah sekelompok penyakit yang ditandai dengan rusaknya sel-sel saraf di lobus frontal temporal otak, yang teletak di bagian depan. Bagian otak ini umumnya bertugas untuk mengatur kepribadian, perilaku, dan kemampuan berbicara (bahasa).

    Secara garis besar Demensia dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pembagian tersebut berdasarkan bagian otak yang bermasalah, yakni: 1. Demensia kortikal: Kondisi ini terjadi karena adanya masalah pada korteks serebral, yakni lapisan luar otak. Bagian otak ini berperan penting dalam fungsi memori dan bahasa. Itu sebabnya, orang yang mengalami kondisi ini biasanya akan mengalami kehilangan ingatan yang cukup parah, dan menurunnya kemampuan untuk mengingat kata-kata, bahasa, dan keculitan dalam berbicara. Penyakit Alzheimer masuk ke dalam jenis ini.

2. Demensia subkortikal: Kondisi ini terjadi karena adanya masalah pada bagian otak yang berada di bawah korteks. Orang dengan kondisi ini biasanya menjadi lebih sering lupa dan mengalami masalah dalam proses berbicara. Penyakit Parkinson, serta HIV adalah beberapa contoh penyakit yang dapat menyebabkan jenis ini.

        Sebelum memutuskan apakah Anda atau keluarga terdekat mengalami Demensia atau tidak sebaiknya kenali gejala dari Demensia itu sendiri. Gejala-gejala umum dari demensia bisa meliputi perubahan secara kognitif dan psikologis.

        Gejala terkait perubahan kognitif: Kehilangan ingatan, kesulitan berbahasa, berkomunikasi dengan orang lain, dan kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari. Mengalami disorientasi atau kebingungan akan waktu dan tempat. Kesulitan dalam berpikir dan mencerna informasi. Sering lupa dan salah saat meletakkan suatu benda.

        Gejala terkait perubahan psikologis: Perubahan perilaku, kepribadian, dan mood yang kerap terjadi secara tiba-tiba. Kehilangan inisiatif atau apatis pada hal apa pun, termasuk pada kegiatan yang sebelumnya pernah ditekuni. Kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Mengalami depresi, Mengalami halusinasi, paranoia, dan gelisah.

        Penderita dmensia tidak mampu hidup mandiri dan memerlukan dukungan orang lain. Jika Anda atau orang terdekat memiliki satu atau lebih gejala di atas segera konsultasikan dengan dokter Anda agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan Anda. Sejauh ini, tidak ada tata cara pengobatan yang baku untuk demensia.  Demensia tidak dapat disembuhkan, namun pengobatan secara dini dapat membantu meredakan dan memperlambat perkembangan gejala, serta menghindari komplikasi lebih lanjut.  Pengobatan tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan dua cara, yakni obat-obatan dan terapi:

1. Obat-obatan: Sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter Anda.

2. Perawatan tanpa obat: Perawatan ini bertujuan untuk membantu mengendalikan gejala demensia. Perawatan tanpa obat bisa dilakukan dengan terapi okupasi, terapi relaksasi, seperti musik, hewan peliharaan, seni atau terapi pijat. Terapi ini bisa membantu merangsang mood dan perilaku.

        Selain dengan obat-obatan dan perawatan tanpa obat, pengobatan rumahan juga dapat dilakukan untuk mengatasi demensia, diantaranya: Tingkatkan komunikasi dengan cara melakukan kontak mata dan berbicara secara perlahan. Anda juga dapat menggunakan gerakan untuk menjelaskan ide Anda. Gunakan benda atau peralatan harian yang sama setiap harinya, untuk melatih ingatan. Selalu letakkan benda atau peralatan di tempat yang sama, untuk memperkuat ingatan.

© 2017 247wulanhealthcare . All rights reserved | Design by W3layouts